Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Rabu, 27 November 2013

Mata Anak Panah



Aku sudah muak berada di sini. Terlalu sering aku tersedak debu. Semakin lama semakin bosan. Aku terus mengeluh. Mengapa tak seorang pun mau melirikku?
Aku pun muak dengan teman-teman tas lain. Mereka tak pernah ramah padaku. Mereka mengejekku habis-habisan. Sakiiit... sekali. Aku benar-benar amat iri pada mereka. Tak sampai seminggu, mereka pasti laku keras. Trend mereka memang oke dan berkelas. Sedangkan aku?
Jangan tanya, deh. Aku hanyalah sebuah tas kulit lusuh warna cokelat tanpa daya tarik secuil pun. Tas-tas lain biasa menyebutku Cokelat. Aku tak lagi berada di dalam etalase yang hangat dan nyaman.Sekarang, sudah tujuh bulan lima belas hari aku tergantung di toko.Well, digantung tanpa plastik pelindung. Jahat benar pegawai toko ini.
Bukan hanya sekali-dua kali. Tiap ada pelanggan yang datang, aku selalu berharap ada yang membeliku, atau hanya sekedar melirikku. Namun, apa dayaku? Aku sudah tidak trendy lagi. Model tas sepertiku sudah jadul sementara para pelanggan di luar sana fashionable. Tak dapat kupungkiri, aku selalu iri pada tas-tas lain yang menyambut dengan suka-gembira tas plastik berlogo toko ini.
“HEI, Cokelat! Ngelamun nih yee…?”
Tiba-tiba terdengar suara yang amat familier. Si Merah Maroon. Aku hanya mendengus sebal mendengarnya. Ah, harus siap-siap tutup telinga nih. Aku berani bersumpah demi nenek moyang tas di seluruh dunia, si Maroon pasti mulai melancarkan serangan mautnya.
“Mikirin apa sih? Gara-gara nggak laku-laku ya?“
Aku memutar bola mataku ke arah lain, mencoba bersikap acuh tak acuh.
“Apa perlu aku nyanyikan lagu untukmu, Cokelat? Ibu-ibu, bapak-bapak, siapa yang mau beli... Cokelat tak laku-laku... huhuhu...“
Apaan sih? batinku kesal, tak sanggup menebalkan telinga. Hatiku mulai sakit mendengar cemoohannya.
“Zaman sekarang modelmu sudah nggak trendy lagi, tuh!“
Oh God, sebuah mata anak panah menembus jantungku.
“Well, maaf-maaf saja ya, Cokelat. Tapi sepertinya aku nggak akan bisa nemenin penantian panjangmu yang nggak bakal berakhir ini, deh. Lihat gadis berkaus putih itu nggak?” Si Maroon tersenyum penuh kesombongan,” Dia melirikku terus, tuh!”
Walaupun harga diriku terasa tercabik-cabik, aku penasaran dengan perkataan Maroon. Mau tak mau aku mengikuti arah pandangnya dan memastikan dengan mata kepalaku sendiri. Sialnya, si sombong Maroon itu benar.
“Yeah, aku sangat menarik dibandingkan kamu, bukan?”
Huh, terserah deh! Batinku sesak. Ada empat mata anak panah lagi yang menusuk ulu hatiku. Arghhh… sakiiit…
Cepat-cepat aku menghibur diri sendiri dan menerima kenyataan dengan lapang dada. Uh, padahal si Maroon baru saja tinggal lima hari dan hari ini ia sudah laku! Sulit dipercaya! Mengapa aku tidak begitu? Mengapa aku harus menjadi korban setia butiran debu sepanjang musim ini? Benar-benar sulit dipercaya.
Di kemudian hari aku punya teman baru. Oh, kurasa ia tak pantas kuanggap sebagai teman karena sama halnya dengan tas-tas lainnya, ia turut mengejekku. Pendatang baru kali ini bernama Violet, warna lembayung.
Dia tampak mmm... amat cantik dan berkesan elegan. Uh, bikin iri saja. Dan bikin makan hati sampai hati ini terasa amat pilu. Tak seperti Maroon, si Violet lebih sadis. Tidak berperike-tas-an !
’’Mengapa aku mencium bau menyengat yang tidak sedap ?˝ katanya seraya menutup hidung.
˝Hei, kau keliru, kali. Aku tidak mencium apa-apa. Memangnya bau seperti apa?“ timpal si Putih, tas kanvas yang jutek.
“Mmm… seperti bau bangkai busuk, atau bau sampah dan sejenisnya. Dan bau itu tepat persis berasal dari SEBELAHKU.”
Aku yang mendengarnya terkejut seketika itu. Dadaku terasa sesak sekali. Hatiku sakit, seperti ada sesuatu yang menghimpitku. Apakah aku seburuk itu? Oh, dua puluh lima mata anak panah kembali menghunjam dadaku.
Ucapan kejam nan sadis yang terlontar dari mulut Violet membuatku amat terpukul. Setelah itu aku berusaha tidak berkomunikasi dengan tas-tas lainnya. Bahkan sebisa mungkin aku menghindari kontak mata walaupun tak disengaja. Terlalu banyak mata anak panah yang mendarat padaku dan aku tak akan sanggup lagi menahan rasa sakit yang tak terperi.
***
Aku tersedak debu ketika pegawai toko itu membersihkanku dengan kemucingnya seraya berkata,“Kasihan, kau. Seharusnya hari ini kau akan kubuang ke tempat sampah. Tetapi kemarin ada yang menelepon dan menanyakan apakah masih ada tas kulit warna cokelat yang murah meriah. Untung kau belum kubuang. Biarpun murah, tetap saja uang.“
Raut mukaku menjadi cerah seketika.
Aku akan laku! Sorakku dalam hati. Sepanjang waktu aku menunggu si pelanggan tanpa menghiraukan ejekan pedas dari tas lainnya.
“Kudengar kau akan laku ya?“ ujar Violet dengan nada tak suka.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Well, merupakan suatu prestasi yang luar biasa bisa mengalahkan pamor si Violet yang amat cantik dan elegan itu!
“Huh, gitu aja bangga! Memangnya kau bernilai jual berapa sih?” tukas si Putih Kanvas.
Aku tetap membungkam mulut. Nggak ada untungnya memberi tahu mereka berapa nilai jualku.
“Itu sih nggak usah ditanyakan lagi!”sambung Violet,”Paling-paling juga seharga obralan kaus kutang!”
Uh... pedas nian ucapanmu wahai Ratu Congkak!
Aku memalingkan muka, menatap jalanan yang ramai. Orang-orang berlalu-lalang berjalan di atas trotoar. Beberapa ada yang memperlambat langkah mereka untuk sekedar melihat-lihat toko, termasuk toko tas yang kini kutinggali.
Tiba-tiba seorang gadis berparas cantik memasuki toko kami. Ia terlihat seperti sedang sakit. Tubuhnya tinggi tapi kurus kerempeng. Matanya cekung dan kulitnya yang putih terlihat agak pucat. Langkahnya lebar, terkesan sedang tergesa-gesa. Ia mendekat pada salah satu pegawai toko dan berkata sesuatu. Kemudian pegawai toko kami membawanya menuju deretan tas tempat hunianku.
Hei, ternyata gadis itu adalah pembeliku!
Aku pun menyambut tas plastik putih berlogo toko kami dengan senyum sumringah. Emosiku begitu meluap-luap, sampai aku tak menyadari si Violet menatapku dengan tatapan membunuh. Biar saja. Emang gue pikirin?
***
Kini aku telah memiliki majikan. Aku benar-benar siap sedia dengan tugas perdanaku. Walaupun agak berat karena barang bawaan majikanku yang banyak, aku tetap bersemangat menjalankan tugas.
“Hei, mengapa kamu senyam-senyum terus?” sebuah suara menyadarkanku.
“Oh, hei, dompet biru! Maaf, aku terlalu senang karena ada orang yang mau membeliku dan menjadikanku sebagai budaknya.”
“Yang benar saja, tas cokelat!” timpal HP hitam.
“Hmm?” aku meliriknya heran.
“Kami bahkan sudah muak menjadi budak gadis ini selama berbulan-bulan. Sangat muak!”
Dahiku berkerut-kerut mendengarnya.
“Mengapa? Hei, harusnya kalian bersyukur tahu! You know what, aku sudah memimpikan tugas baruku ini sejak lama.”
“Bersyukur katamu? Aku belum segila itu!” jawab HP sinis.
“Hhh... sudahlah. Jangan berdebat terus.” Dompet biru menengahi.
“Ingat ya, Cokelat. Kau pasti akan menarik ucapanmu jika masih bersikeras bersyukur seperti itu!”
Setelah kejadian itu, bebanku mulai ringan. Beberapa barang pribadi majikanku sudah raib entah ke mana. Si HP hitam juga telah hilang. Sepertinya sudah dijual oleh si gadis. Padahal aku masih penasaran dengan perkataannya yang kini memenuhi benakku. Bukan hanya HP hitam yang menghilang, namun si ramah dompet biru juga ikut lenyap. Kini hanya ada berlembar-lembar uang seratus ribu dan lima puluh ribuan yang diikat rapih. Aku enggan berbicara dengan mereka karena suara mereka amat mahal, semahal nilainya. Well, bagaimanapun juga, mereka berada di atasku karena dengan merekalah aku bisa dibeli.
Tak lama kemudian beberapa dari uang tersebut diambil majikan. Hatiku senang, sekaligus berharap-harap cemas. Mungkin si gadis akan membeli sesuatu yang baru. Dan aku akan punya teman mengobrol lagi seperti HP dan dompet biru.
Agak lama, datanglah penghuni baru. Dia adalah bubuk putih yang dibungkus plastik. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapakah gerangan si bubuk putih ini?
Keherananku bertambah ketika datang lagi lembaran-lembaran daun kering dan satu boks pil-pil. Aku pun memberanikan diri menyapa mereka.
“Hei, kawan! Siapa kamu?” sapaku dengan senyum ramah tersungging di bibir.
Tetapi salah satu dari mereka, si bubuk putih menatapku sinis.
“Aku salah satu NARKOBA.”
***
Oh, lima puluh mata anak panah menghunjam seluruh tubuhku seketika itu. Kali ini aku benar-benar amat terpukul. Berhari-hari aku membawa mereka kian-kemari. Mereka datang dan pergi, silih berganti. Membuat kesedihanku kembali datang menyusup dalam hati.
Kini aku tahu apa maksud HP hitam. Dan kini aku sungguh menyesal tak mempercayainya. Lebih baik aku tersedak debu setiap hari. Tergantung sepanjang waktu di toko. Mendengar tas lainnya memperolok-olokkan diriku. Atau bahkan terbuang dan dirongsokkan bersama sampah-sampah hina.
Hidupku yang sekarang lebih sengsara.
Aku tak henti-hentinya menangis dalam hati. Tiba-tiba, di sela tangis sesalku, aku mendengar gonggongan anjing. Lima detik kemudian aku menjerit dengan hebatnya.
Oh, tali tasku copot satu digigit anjing! Kemudian aku dikoyak-koyak olehnya. Namun yang lebih menyakitkan, si gadis tak mencoba menyelamatkanku. Hatiku ikut terkoyak melihat majikanku yang berlari menjauh dengan membawa mereka, barang kesayangannya.
Setelah puas mencabik-cabik diriku, anjing itu pergi begitu saja. Aku menangis sendu meratapi nasibku. Namun, seolah ada malaikat yang turun dari langit datng menghiburku. Aku sadar, lebih baik aku begini daripada menyembunyikan barang haram itu. Setidaknya, aku tak lagi berkomplot untuk merusak generasi bangsa ini.
Tiga puluh dari lima puluh mata anak panah mulai terlepas perlahan dari tubuhku. Dan aku akan berjuang lebih keras untuk melepas yang lainnya, yang merenggut kebahagiaanku.
Selasa, 08 Oktober 2013

FALLING in LOVE



Danku t’lah jatuh cinta
Ku wanita dan engkau lelaki
Hati kecilku berkata
I’m falling in love

Siapa yang nggak pernah jatuh cinta? Mey rasa semua pernah. Termasuk Mey sendiri. Kalo dihitung pake jari, dan yang menurut Mey itu adalah benar, Mey pernah jatuh cinta 4 kali. WHAAAATTT???? 4 KALI?????
Hahaha…. Tapi Mey gak tau bagi orang lain 4 kali falling in love itu masalah apa enggak. Soalnya, Mey pernah baca di buku bahwa seseorang jatuh cinta itu maksimal 7 kali. Loh,loh, berarti kesempatan untuk Mey jatuh cinta lagi tinggal 3 kali lagi dong?!?!
Waahhh, wahhhh….. Tapi Mey nggak semudah itu percaya dengan kata buku! Mey pastinya lebih percaya dengan kata kata hati! Bener nggak sob?! :D
Sebenernya, Mey mau kasih tau nih, siapa aja orang yang masuk list hati Mey (ecieeee…. :p) jangan bilang siapa-siapa yahh… ssstttt… (ini kan forum terbuka, kenapa pake rahasiaan-rahasiaan yah??)
1.       Maka, orang yang pertama kali Mey taksir waktu kelas 4 SD. Kalo yang satu ini Mey yakin 100% CIMON alias Cinta Monyet!! Ya jelaslah, orang waktu itu Mey masih bau kencur bangeeeeetttt….. Jadi, ceritanya nih, Mey juga nggak suka sama dia. Oya, kasih perumpamaan, yaa. Anggap aja namanya PAIJO. Nah, Mey kenal PAIJO gara-gara temen-temen Mey pada ngejodohin sahabat Mey. Diberitakan bahwa sahabat Mey suka sama suka dengan PAIJO. Nah, Mey penasaran siapa PAIJO itu. Setelah tau….. eh, kepincut juga!
2.        The Second is Tejo (masih perumpamaan). Waktu itu Mey kelas 6 SD. Yahhh… lumayan lah, udah mau remaja biarpun umurnya belum cukup buat suka-sukaan gituuuu…. :D Kalo sama Tejo ini, Mey udah kenal dari kelas 3 SD

Minggu, 28 April 2013

PLAYLIST (1)


lirik lagu Satu Jam Saja-Lala Karmela>note: lagu ini menginsspirasiku banget!!!hope you like this!!!<
Jangan berakhirAku tak ingin berakhirSatu jam sajaKu ingin diam berduaMengenang yang pernah adaJangan berakhirKar’na esok takkan lagiSatu jam sajaHingga ku rasa bahagiaMengakhiri segalanya
Tapi kini tak mungkin lagiKatamu semua sudah tak berartiSatu jam sajaItu pun tak mungkinTak mungkin lagi
Jangan berakhirKu ingin sebentar lagiSatu jam sajaIjinkan aku merasaRasa itu pernah ada
Jangan berakhirKar’na esok takkan lagiSatu jam sajaHingga ku rasa bahagia
Mengakhiri segalanya
Tapi kini tak mungkin lagiKatamu semua sudah tak berartiSatu jam sajaItu pun tak mungkinTak mungkin lagi
Jangan berakhirKu ingin sebentar lagiSatu jam sajaIjinkan aku merasaRasa itu pernah ada
Ijinkan aku merasaRasa itu pernah ada
Rabu, 24 Oktober 2012

Peran Utama



“Permisi… permisi…”
Aku mendesak kerumunan. Berjejal-jejal tubuh di hadapanku, membuatku harus menata kembali pernapasan. Rasa penasaranku mengalahkan rasa maluku dan terus mendesak. Walaupun aku harus rela terjepit karena badanku yang mungil dan mencium bau keringat. Errrgghh...
Semua itu demi peran utama!
"Yes !"sorakku senang setelah melihat papan pengumuman.
Walaupun sudah dapat kuduga sebelumya, namun aku masih berharap-harap cemas. Selalu ada sensasi yang berbeda melihat namaku terpampang di baris awal pengumuman. Selain itu, menyenangkan sekali melihat para siswa lainnya yang menatapku penuh kagum dan iri. Membuatku secara otomatis mendapat kehormatan sebagai the queen of drama. Itu semua membuatku serasa nge-fly. Terbang melayang sampai ke langit ketujuh.
"Sunny! Gimana, kamu dapat peran utama lagi, kan?“Mareta menghampiriku sambil berlari-lari kecil.
Aku hanya tersenyum. Tanpa kulontarkan jawaban pun, Mareta dan semua orang di bumi SPADA ini pasti tahu. Bagaimana tidak? Aku, Sunny Syahputra, selalu mendapatkan peran utama baik dalam drama maupun opera di sekolah. Dari kelas tujuh hingga kelas sembilan sekarang, belum ada yang berhasil merebut peran yang menjadi idaman para siswa teater.
"Wah, kamu memang Sunny deh! Selalu bersinar!” puji Mareta.
Aku pun semakin melebarkan senyumku…
…
Rabu, 01 Agustus 2012

Short story_2 years ago

The Story of My Gank
Oleh: Melati Maeky Permata
“Git, kalo boleh jujur nih…” Fifi mengguncang pundakku.
“Hmm?” aku mendongak dan berhenti menulis Pooh,diaryku.
“Tapi sebelumnya aku mau tanya dulu nih. Mumpung gak ada Riswanda.”
“Kok kayaknya rahasia banget, Fi?”
“Iya nih.”
“Ya udah, ngomong aja langsung.”
“Mmm,,, selama 9 tahun iini kamu merasa ada perubahan gak dengan persahabatan kita?”
“Maksudnya?” Fifi ini kok basa-basinya panjang? batinku.
“Ng,,, apa kamu merasa nderedek kalo deket Riswanda?”
“Hah?” aku melongo. Apaan sih Fifi ini? Aneh. Jarang banget ngomong beginian.
“Kalo Gita sendiri gimana? Soalnya aku nderedek.”
Aku? “Nggak, sih. Kenapa?”
What? Tidak? Padahal, untuk menatap matanya aku harus pasang double jantung. Itupun dengan jarak yang jauuuh. Gimana kalo jarak 10cm? Ya Tuhan, bisa-bisanya aku berbohong begini.
“Mmm,, kayaknya aku kena SJC deh…”
Apa? Sahabat Jadi Cinta? Dan aku juga. Arggghh…
“Ng,, well, it’s okay. Mulai kapan?”
“Mmm… tiga tahun yang lalu.”
Tiga tahun? Kelas 1 SMP dong? Berarti sama kayak aku dong?!
“Waktu kapan?” tanyaku hati-hati.
“Mmm… waktu acara pesi perpisahan kelas tiga…”
Voila! Aku inget sekarang. Dengan gentleman, Riswanda nolong Fifi dari sambetan kakak kelas. Melihat itu, aku jadi jealous pada Fifi. Yah, saat itu juga aku menyadari kalo aku suka dia.
Mulutku ber-ooh-ria.
“Eh, tapi jangan bilangin ke Riswanda ya!” pinta Fifi.
“Ng, gimana ya??” godaku.
“Please… okay???” dia memohon dengan wajah memelas.
“Oke deh. Siiipp!!!” kami mengaitkan jari kelingking.
***
Saat itu aku berpamitan kepada Riswanda untuk pulang. Kami bertiga memang bikin proyek seni rupa. Kami udah nggak terpisah deh. Tapi setelah berjalan beberapa blok, aku teringat sesuatu. Ternyata pooh-ku ketinggalan di rumah Riswanda!
Mampus!! Gimana nasibku terus?? Gimana kalo dibaca?? Mana belom dikunci, lagi! batinku panik.
Drrrtt… drrrt…
HP-ku bergetar. Riswanda??
“Halo, Ris?”sapaku gugup.
“Besok bisa bicara, Git?”
“Mmm,,, bisa kok. Sama Fifi?”
“Iya. Udah ya..”
“Eh,, bentar! Tau diary-ku nggak??” tanyaku panik.
“Apa, Git? Aku nggak denger. Besok aja deh.” potongnya dingin.
Sambungan diputus! What happen with him?
***
“Aku mau ngomong.” Kata Riswanda dingin.
“Apaan? Kok kayaknya serius amat…” Fifi dengan santainya memainkan sedotan jusnya. Aku berpura-pura SMS-an padahal HP-ku drop!
“Kalian bisa serius dikit nggak sih?” pinta Riswanda.
“Lho, bukannya biasanya kita bicara dengan santai? Enjoy dikit dong, Riiiss.” Fifi mengaitkan jemarinya dengan milik Riswanda. Aku merasa… jealous?
“Fi, ini bukan waktunya bercanda! Dan kamu, Gita! Jangan SMS-an dulu bisa?” Riswanda melepas jemari Fifi dan merebut HP-ku,”Oh, good! This the best lies from my bestfriend!!! Gita! Kenapa bohong sih? Orang HP-mu drop gini mau SMS-an?!”
Shit!! Dia marah..
“Iya, iya. Makanya kalo ngomong cepetan!” aku menyambar HP-ku.
“Coba dengerin rekaman ini.”
Oh, Tuhan… itu kan rekaman percakapanku dengan Fifi tempo hari! OMG!!! Muka Fifi pucat. Badannya gemetar.
“Ris,, kamu…” gumamnya tak jelas.
“Dan baca ini!” dia mengeluarkan buku. Itu pooh!! Terlambat!!! Fifi udah membacanya. Matanya melebar. Mulutnya mebulat. Dia ber-ooh-ria sinis.
Dengan sigap, aku menyambar pooh dan memasukkannya ke dalam tas.
“What do you mean??” tanyaku sinis.
“Maksud kalian apa? Malu kena SJC ya?? Kenapa saling nyembuiin rahasia gini, sih?!” dia memutar balikkan pertanyaan.
“Oke, sekarang apa maumu?” tantangku.
“Ris, sekarang kamu pilih siapa? Aku tau Gita??” tiba-tiba Fifi bersuara.
Aku melotot.”Fi, kamu gila ya? Kita ini sahabatan!” aku mengingatkan. Aku nggak pingin kehilangan Fifi dan Riswanda sekaligus yang udah 9 tahun bersahabat.
Riswanda diam seribu bahasa. Dia terlihat sedang…berpikir?? Ahh,, bête! Aku menyambar tasku dan segera beranjak dari tempat itu. Tapi, Riswanda menahanku.
“Persoalan ini belum selesai, Git.”
“Kalo gitu cepet bilang kamu pilih siapa, Ris!” Fifi bangkit.
“Duduk, Fi.” Perintah Riswanda tegas. Fifi menurut. Aku pun ikut duduk supaya nggak jadi totonan kantin yang ramai. Untung orang-orang nggak peduli.
“Sebenernya, ada yang aku sembunyiin dari kalian selama ini.” Kata Riswanda.
Apa? Kamu punya pacar diam-diam? Nggak kaget kok. Mukamu kan menjual, batinku.
“Apa?? Jangan bilang kalo kamu punya pacar!” desis Fifi sinis,”Atau… kalian pacaran?”
Mataku melotot. Aku hendak nyolot, tapi Riswanda udah buka mulut.
“Cewek-cewek, diem dulu, ya. Aku mau ngomong serius. Aku sengaja ngajak kumpul gini karena kupikir kalian udah saatnya untuk tau bahwa aku…”
Aku diam. Masih sedikit marah. Fifi menyedot jusnya kuat-kuat.
“Aku gay…”
Uhuuuk!!!!!!
“What?? Are you crazy, Ris??” tanyaku tak percaya. Fifi buru-buru minum karena tersedak.
“Nggak. Aku waras kok. Tapi begitulah kenyataannya.”
***
Setelah itu hubungan kami renggang, terutama Fifi. Mungkin dia sakit hati arena Riswanda menyembunyikan rahasia besar yang benar-benar menyakitkan. Fifi menghindar, dengan alasan sibuk hangout dengan pacar baru. Aku maklum. Tampangnya emang menjual. Tapi aku jadi nggak enak hangout bareng Riswanda aja. Memang, aku masih bisa ngegossip cowok-cowok keren yang lewat, tapi ini dengan RISWANDA!! Walaupun gay, aku masih belum terbiasa.
Rasanya jenuh. Plus iriiiiii banget dengan Fifi. Masa dia udah dapet pengganti tapi aku belum?
Masih dalam kebimbangan, aku melangkah ke radio café, di kawasan kartini. Rasanya pingin nongkrong di sana biarpun sendirian. Tapi mataku terpaku pada cewek berbaju ungu. She’s Fifi! Kok sendiri? Katanya lagi bareng Damar, pacar barunya? Jangan-jangan…
Aku segera mengambil kursi dan menelepon Fifi.
“Halo, Git.”
“Fi, di mana?”
“Ng… di radio café nih, bareng Damar. Ini dia di sebelahku.”
Apa?? Di sebelah?”Oya? aku juga di radio café, lho!”
“Hah?!” Fifi terkejut dan menoleh. Matanya menemukan mataku. Ia kemudian berbalik dengan cepat. Aku menghampirinya.
“Ngapain sih pake bohong segala?! Pake alasan punya pacar baru, lagi!” tanyaku.
“Iya, sih. Tapi aku begini gara-gara Riswanda..”
“Ya ampun, Cuma itu?” aku tertawa.
“Eh, kamu bilang juga nge-date. Bohong juga ya?”
Aku nyengir.”Hehehe… sorry. Habis kalo ngegossip cowok ganteng bareng gay gak asiiik.”
“Huuuuu!!!!” cibir Fifi.
“Hei!!!!!!” tiba-tiba Riswanda datang.
Fifi dan aku berpandangan khawatir, takut Riswanda ngamuk lagi.
“Kalian ini bener- pecundang ya?” sindir Riswanda.
“Hahaha… yang penting jojoba dooong.” Sahut Fifi.
Riswanda mengangkat alis, nggak tahu.
“JOMBLO-JOMBLO BAHAGIA!!!”
***